Skizofrenia Bisa Pulih, tapi Budaya Kita Masih Menghambat: Pesan Tegas dr. Jiemi Ardian

Jakarta, 7 Oktober 2025 – Masih banyak masyarakat Indonesia yang lebih percaya pada pengobatan alternatif dan dukun ketimbang penanganan medis modern, terutama dalam kasus gangguan kejiwaan seperti skizofrenia. Fenomena ini tidak hanya memperburuk kondisi pasien, tetapi juga menyebabkan kehilangan kesempatan untuk sembuh total.

Dalam episode terbaru Kelas Pakar di kanal YouTube-nya, dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, seorang psikiater klinis sekaligus pendidik kesehatan mental, menyoroti secara tajam bagaimana budaya dan kepercayaan mistis sering menjadi hambatan utama bagi kesembuhan penderita gangguan jiwa di Indonesia.

Kasus Nyata: Lima Tahun Tersesat karena Salah Arah Pengobatan

Dr. Jiemi membuka sesi dengan kisah nyata dari seorang pasien muda yang awalnya menunjukkan gejala kejiwaan dan dianggap “kesurupan jin”. Alih-alih dibawa ke dokter, keluarga pasien mengandalkan pengobatan supranatural selama bertahun-tahun.

“Satu tahun pengobatan, dua tahun, tiga tahun… uang habis, sawah dijual, ternak dijual. Dari yang tadinya cukup berada, keluarga ini jatuh miskin,” tutur dr. Jiemi.

Setelah lima tahun tanpa kemajuan, barulah pasien dibawa ke layanan medis. Hasil asesmen menunjukkan bahwa sang anak sebenarnya mengidap skizofrenia, bukan kerasukan.
Sayangnya, waktu sudah terlambat. Kerusakan fungsi otak dan sosial yang seharusnya bisa dicegah, kini sulit dipulihkan sepenuhnya.

“Saya baru tahu lima tahun kemudian, dan itu membuat saya marah. Karena skizofrenia bisa sekali ditangani asal ditemukan dan diobati sejak awal,” ujarnya tegas.

Skizofrenia Bisa Pulih – Asal Ditangani Dini

Skizofrenia bukanlah vonis seumur hidup. Dengan diagnosis dini dan terapi yang tepat, penderita berpeluang besar kembali hidup normal dan produktif.
Namun, penundaan penanganan membuat prognosis memburuk drastis.

“Semakin lama pengobatan ditunda, semakin buruk outcome-nya. Yang seharusnya bisa kembali normal, jadi kehilangan kesempatan itu selamanya,” jelas dr. Jiemi.

Ia menegaskan bahwa pasien skizofrenia yang ditangani sejak awal dapat kembali bekerja, berinteraksi sosial, dan mandiri, bukan hanya duduk di rumah menelan obat untuk menahan amarah atau halusinasi.

Bagi kalangan medis, kesembuhan bukan sekadar meredam gejala, tetapi mengembalikan kualitas hidup pasien secara penuh.

Budaya Mistis dan Kepercayaan yang Menghambat Kesembuhan

Menurut dr. Jiemi, akar persoalan kesehatan jiwa di Indonesia tidak hanya pada kurangnya fasilitas medis, tetapi juga pada kepercayaan budaya yang masih kuat mengaitkan gangguan mental dengan hal-hal mistis.

“Saya tidak punya masalah personal dengan para dukun. Tapi pengalaman saya melihat orang-orang yang tidak bisa kembali normal hanya karena pergi ke dukun duluan itu menyakitkan,” ujarnya lirih.

Fenomena ini tidak hanya membuat pasien kehilangan waktu emas untuk pulih, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi dan emosional yang besar bagi keluarga.
“Ini bukan hanya tentang uang yang hilang, tapi tentang harapan yang ikut hilang,” tegasnya.

Dampak Sosial: Dari Pasung hingga Kekerasan

Keterlambatan diagnosis dan penanganan medis pada gangguan jiwa juga berpotensi memicu masalah sosial yang lebih luas.
Banyak pasien yang akhirnya dipasung, mengalami kekerasan, atau menjadi pelaku kekerasan karena kondisi mentalnya tidak tertangani dengan baik.

“Kalau seseorang tidak mendapatkan penanganan yang baik, dia bisa jadi korban kekerasan atau malah melukai orang lain. Semua ini bisa dicegah jika sejak awal mendapat terapi medis,” jelasnya.

Data WHO yang dikutip dr. Jiemi menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dalam Disability Adjusted Life Year (DALY) untuk kasus skizofrenia—angka yang menggambarkan beban hidup disabilitas akibat keterlambatan penanganan.
Dengan lebih dari 270 juta penduduk, Indonesia baru memiliki sekitar 1.000 psikiater aktif, jumlah yang jelas tidak memadai untuk melayani seluruh populasi.

Kepercayaan Keliru soal Obat Psikiatri

Selain mitos mistis, stigma terhadap obat psikiatri juga menjadi hambatan besar.
Banyak masyarakat menganggap bahwa obat antipsikotik membuat ketagihan, merusak ginjal, atau harus diminum seumur hidup, padahal hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

Dr. Jiemi mengajak masyarakat untuk meninjau ulang keyakinan mereka terhadap pengobatan medis.
Ia mendorong diskusi terbuka dan edukasi publik agar kepercayaan yang salah tidak menghalangi proses penyembuhan.

“Coba pikirkan, kalau keyakinanmu soal obat membuat seseorang tidak mau berobat, berarti keyakinan itu juga bagian dari masalahnya,” ujarnya.

Seruan dr. Jiemi: Ubah Pola Pikir, Beri Kesempatan untuk Pulih

Dalam penutupnya, dr. Jiemi mengajak masyarakat Indonesia untuk berpikir kritis terhadap kepercayaan budaya dan mistis yang sudah mengakar, serta membuka diri terhadap ilmu kedokteran modern.

“Jangan anggap sederhana apa yang kita percaya. Kadang hal yang kelihatannya lucu-lucuan bisa berbahaya. Kalau jatuh ke orang yang salah, itu bisa menghancurkan hidupnya,” pungkasnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif bahwa gangguan mental adalah penyakit medis, bukan kutukan atau gangguan spiritual.
Perubahan persepsi publik akan menjadi langkah besar dalam menurunkan stigma, meningkatkan akses pengobatan, dan menyelamatkan banyak nyawa yang selama ini terjebak dalam keheningan.

Kesimpulan

Pesan utama dari dr. Jiemi Ardian sederhana namun mendalam:

“Skizofrenia bisa pulih. Tapi kalau budaya kita masih menghambat, maka harapan itu hilang sebelum sempat tumbuh.”

Transformasi cara pandang terhadap kesehatan jiwa adalah tanggung jawab bersama — pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat.
Dengan pendekatan ilmiah, empati, dan edukasi berkelanjutan, Indonesia bisa bergerak menuju masyarakat yang lebih sehat secara mental dan lebih manusiawi dalam memandang penderita gangguan jiwa.

Sumber Referensi:

  • Video: Skizofrenia Bisa Pulih, tapi Budaya Kita Menghambat – Kelas Pakar, dr. Jiemi Ardian (YouTube, 7 Oktober 2025).
  • Data WHO dan Kementerian Kesehatan RI terkait prevalensi gangguan jiwa di Indonesia (2024–2025).
  • Wawancara publik dan kuliah umum dr. Jiemi Ardian tentang literasi kesehatan mental di Indonesia.

saiful

View Comments

Share
Published by
saiful

Recent Posts

Dasar Komputer Science

Ilmu komputer teoretis (theoretical computer science) memiliki hubungan erat dengan matematika karena pemrograman menggunakan algoritma,…

2 months ago

Seni Berbicara dan Mendengarkan ala Julian Treasure

https://www.youtube.com/watch?v=SuaxadRqJpM Pengantar Suara manusia adalah instrumen yang kita semua mainkan — sekaligus alat paling kuat…

6 months ago

Apakah Dunia Menuju Perang Dunia III?

https://www.youtube.com/watch?v=Ew59SKy181Y Analisis Heni Ozi Cukier mengungkap empat dimensi — sosial, ekonomi, politik, dan militer —…

6 months ago

Semua Fisika dalam 14 Menit: Ringkasan Konsep Inti

https://www.youtube.com/watch?v=ZAqIoDhornk Ringkasan padat dari konsep-konsep utama fisika—dari Newton hingga mekanika kuantum—dengan contoh sehari-hari dan makna…

6 months ago

Belajar Membaca Bahasa Rusia dalam 9 Menit

https://www.youtube.com/watch?v=olQh39MoJsQ Cara Cepat Mengenal Huruf Sirilik dan Logika Bahasa Rusia untuk Pemula Pendahuluan: Bahasa Asing…

6 months ago

Korelasi Iman, Ilmu, dan Takwa Menurut UAH

https://www.youtube.com/watch?v=UJGsfLa8dmE 1. Korelasi antara Iman, Ilmu, dan Takwa UAH menjelaskan bahwa iman dan ilmu merupakan…

6 months ago