Rokok ilegal rugikan negara triliunan, hancurkan ekonomi, dan ancam jutaan pekerja. Simak analisis Ferry Irwandi soal dampaknya bagi Indonesia.
Rokok memang sudah lama dikenal sebagai musuh kesehatan. Namun, di balik asap yang mengepul, tersembunyi masalah lain yang jauh lebih kompleks dari sekadar urusan paru-paru: rokok ilegal.
Fenomena ini bukan hanya merusak tubuh, tetapi juga menggerogoti sendi-sendi ekonomi, meruntuhkan tatanan sosial, dan melemahkan integritas industri nasional.
Dalam video terbarunya, Ferry Irwandi—seorang kreator konten yang dikenal dengan analisis sosial-ekonomi yang tajam—mengangkat isu ini secara lugas. Ia mengingatkan publik bahwa rokok ilegal bukan sekadar pelanggaran kecil, melainkan penyakit sistemik yang merugikan negara hingga puluhan triliun rupiah setiap tahunnya.
Sejak lama, pemerintah Indonesia berupaya menekan konsumsi rokok melalui berbagai kebijakan: menaikkan cukai, menampilkan gambar seram di bungkus, hingga pembatasan usia pembeli. Namun, sebagaimana disampaikan Ferry:
“Indonesia enggak kekurangan regulasi. Yang kurang dari kita itu regulatornya.”
Data menunjukkan, prevalensi perokok di Indonesia tidak pernah turun signifikan sejak 1990. Bahkan, di tengah semakin ketatnya peraturan dan meningkatnya harga rokok resmi, jumlah perokok terus bertambah.
Mengapa? Karena pasar menawarkan alternatif yang “lebih murah”—rokok ilegal. Ketika harga resmi naik, sebagian masyarakat tidak berhenti merokok, melainkan beralih ke produk tanpa cukai. Akibatnya, kebijakan pengendalian rokok kehilangan taringnya.
Menurut riset Indodata Research Center, antara tahun 2021 hingga 2024, peredaran rokok ilegal meningkat dari 28% menjadi 48%. Angka ini mengejutkan, sebab berarti hampir separuh rokok yang dikonsumsi di Indonesia tidak melalui jalur resmi.
Kerugian yang ditimbulkan pun mencengangkan. Potensi kehilangan pendapatan negara akibat rokok ilegal mencapai Rp97,8 triliun—lebih besar daripada APBD DKI Jakarta tahun 2025 (Rp91,3 triliun).
Dana sebesar itu seharusnya bisa digunakan untuk membiayai pendidikan, kesehatan, infrastruktur, atau subsidi bagi masyarakat miskin. Namun kini, sebagian besar justru menguap karena praktik curang dalam industri rokok gelap.
Secara ekonomi, hukum permintaan-penawaran berlaku sederhana: ketika ada produk lebih murah dengan fungsi serupa, masyarakat akan memilih yang lebih murah.
Harga rokok ilegal bisa 50% lebih rendah dari harga rokok resmi. Hal ini terjadi karena mereka tidak membayar pajak, cukai, dan biaya produksi legal, sehingga margin keuntungannya tetap tinggi meski dijual murah.
Ferry mengungkap bahwa mesin pembuat rokok sangat mudah diakses dan diperjualbelikan. Tanpa kontrol distribusi, siapa pun bisa memproduksi rokok di gudang kecil atau rumah pribadi. Ironisnya, pemerintah tidak memiliki mekanisme pelacakan alat produksi ini, kecuali lewat aduan masyarakat.
Pita cukai—yang seharusnya hanya bisa ditebus oleh pabrik resmi—sering kali dipalsukan atau dijual kembali secara ilegal.
Lebih parah lagi, ada dugaan sebagian pabrik resmi justru menjual pita cukainya kepada pihak-pihak ilegal demi keuntungan tambahan. Fenomena ini memperlihatkan celah besar dalam sistem pengawasan fiskal.
Rokok ilegal tidak hanya memukul negara, tetapi juga industri sah yang telah lama menopang perekonomian.
Sejak 2011 hingga 2024, jumlah pabrik rokok resmi turun drastis dari 2.000 menjadi hanya sekitar 200, atau turun 90%.
Sementara itu, jumlah perokok tidak berkurang. Akibatnya, industri formal menderita, sedangkan pasar gelap berkembang pesat.
Dampak ini menjalar ke sektor hulu. Permintaan tembakau menurun, menyebabkan harga jual anjlok di tingkat petani. Padahal sekitar 2,3 juta keluarga petani tembakau bergantung pada industri ini.
Turunnya pembelian dari pabrik resmi membuat mereka kehilangan sumber penghidupan yang pasti.
Selain itu, pendapatan daerah dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ikut menurun. Dana yang seharusnya digunakan untuk membina industri kecil, membantu kesehatan, dan mensubsidi petani kini menipis. Dampaknya: daerah-daerah penghasil tembakau pun ikut terpuruk.
Pertanyaan penting yang diajukan Ferry Irwandi:
“Siapa sebenarnya yang diuntungkan dari rokok ilegal ini?”
Jawabannya jelas: jaringan gelap dan produsen ilegal.
Menurut riset Kompas, satu pabrik rokok ilegal bisa meraup puluhan miliar rupiah per bulan. Keuntungan mereka besar karena tidak membayar cukai, tidak memenuhi standar kesehatan, dan tidak memiliki tanggung jawab sosial.
Sementara itu:
Yang tersisa hanyalah lingkaran ekonomi gelap yang memperkaya segelintir orang di atas penderitaan banyak pihak.
Menyadari bahaya ini, Kementerian Keuangan di bawah Menteri Purbaya berencana tidak menaikkan cukai hasil tembakau (CHT) pada tahun berikutnya. Fokus utama diarahkan pada pemberantasan rokok ilegal dan relokasi produsen ilegal ke kawasan industri legal (APHT).
Langkah ini dinilai tepat karena menyentuh akar masalah. Dengan mengesahkan produsen ilegal menjadi legal, negara tidak hanya menertibkan pasar tetapi juga melindungi lapangan kerja warga yang selama ini menggantungkan hidup pada industri ini.
Namun, sebagaimana diingatkan Ferry, semua akan bergantung pada implementasi dan pengawasan di lapangan. Tanpa keseriusan aparat dan regulator, kebijakan baik pun akan berakhir sebagai formalitas.
Rokok ilegal bukan sekadar masalah ekonomi; ia adalah cermin lemahnya penegakan hukum, rendahnya kesadaran masyarakat, dan rapuhnya sistem pengawasan fiskal.
Ferry Irwandi menutup pesannya dengan refleksi yang tajam:
“Gua bukan orang yang mendukung perokok terus bertambah. Tapi gua rasa, dengan polusi kebijakan yang tepat, angka prevalensi rokok bisa turun tanpa harus mengorbankan pekerjanya.”
Masyarakat perlu memahami bahwa rokok ilegal bukan solusi murah, melainkan bencana tersembunyi bagi bangsa. Ketegasan hukum, transparansi distribusi cukai, serta edukasi publik harus berjalan beriringan.
Karena pada akhirnya, menjaga integritas ekonomi sama pentingnya dengan menjaga kesehatan rakyatnya.
Penulis: Disusun berdasarkan video “Rokok Ilegal Menghancurkan Ekonomi dan Sosial” oleh Ferry Irwandi, YouTube, 15 Oktober 2025.
Ilmu komputer teoretis (theoretical computer science) memiliki hubungan erat dengan matematika karena pemrograman menggunakan algoritma,…
https://www.youtube.com/watch?v=SuaxadRqJpM Pengantar Suara manusia adalah instrumen yang kita semua mainkan — sekaligus alat paling kuat…
https://www.youtube.com/watch?v=Ew59SKy181Y Analisis Heni Ozi Cukier mengungkap empat dimensi — sosial, ekonomi, politik, dan militer —…
https://www.youtube.com/watch?v=ZAqIoDhornk Ringkasan padat dari konsep-konsep utama fisika—dari Newton hingga mekanika kuantum—dengan contoh sehari-hari dan makna…
https://www.youtube.com/watch?v=olQh39MoJsQ Cara Cepat Mengenal Huruf Sirilik dan Logika Bahasa Rusia untuk Pemula Pendahuluan: Bahasa Asing…
https://www.youtube.com/watch?v=UJGsfLa8dmE 1. Korelasi antara Iman, Ilmu, dan Takwa UAH menjelaskan bahwa iman dan ilmu merupakan…
View Comments
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good. https://accounts.binance.com/es-MX/register-person?ref=GJY4VW8W
Thank you for your concern.
However, posting crypto referral links under unrelated content is not exactly subtle.
I suggest finding a more productive hobby.